BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label Brazil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brazil. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Februari 2014

Pele, Sang Raja Dari Brazil


Edison Arantes do Nascimento atau lebih dikenal sebagai Pelé, lahir di Três Corações, Minas Gerais, Brasil 23 Oktober 1940 adalah legenda sepak bola dunia yang berasal dari Brasil. Selama kariernya sebagai pemain, Pele berhasil membawa Brasil menjadi Juara Dunia Sepak bola sebanyak 3 kali, yaitu pada tahun 1958 di Swedia, tahun 1962 di Chili, dan tahun 1970 di Meksiko. Berkat keberhasilannya tersebut, Brasil berhak atas Piala Jules Rimet. Pelé mendapatkan julukan O Rei atau Sang Raja.

Karir Pelé

Pelé mengais uang pertama kali sebagai penyemir sepatu. Namun, cita-citanya sebagai pemain sepakbola tidak pernah sirna.

Ia meniti karir di sepakbola semenjak usia dini. Semula ia bergabung di beberapa tim amatir seperti Baquinho dan Sete Setembro. Menginjak usia 11 tahun, yaitu ketika ia bergabung dengan tim Ameriquinha yang tidak ada pelatihnya, ia ditemukan oleh mantan pemain tim nasional Brazil untuk Piala Dunia yang bernama Waldemar de Brito. Ia menangkap bakat yang luar biasa dari Pelé dan memberikan tawaran untuk bergabung dengan tim yang diasuhnya, yaitu Clube Atlético Baurú?. Menginjak usia 15 pada tahun 1956, de Brito memboyong Pelé ke kota São Paulo dan dicoba bermain untuk klub profesional, Santos Futebol Clube (SFC). Hari itu, de Brito berkata kepada Direktur klub bahwa "anak ini kelak akan menjadi pemain sepakbola terbesar di dunia."

Kiprah Pelé dimulai pada tanggal 7 September 1956 ketika ia menggantikan posisi penyerang tengah Del Vecchio. Secara mengejutkan ia menjebol gawang lawan dengan 6 gol dari 7 gol yang disarangkan timnya dengan posisi akhir 7-1 untuk kemenangan Santos. Pelé mengawali gol emasnya pada menit ke 36 yang bekerjasama dengan 2 penyerang pendukungnya Raimundinho dan Tite. Pelé menerima umpan di daerah kotak penalti dan meskipun ditempel ketat oleh pemain belakang lawan, ia mampu menceploskan si kulit bundar di antara kedua kaki penjaga gawang Zaluar. Zaluar belakangan dikenal secara luas sebagai korban pertama dari keganasan kaki emas Pelé. Perjalanan Pelé dari pertandingan tersebut hingga mencapai puncak kejayaannya dilalui dengan sangat cepat. Dalam pertandingan liga yang pertama kali bersama Santos, ia langsung menggebrak dengan 4 gol. Pada musim kompetisi berikutnya, ia berhasil menempatkan diri sebagai pencetak gol terbanyak di kompetisi liga negara bagian São Paulo dengan 32 gol. Hanya dalam tempo singkat, Pelé kemudian dipanggil untuk bergabung dengan skuat tim nasional Brasil.

Ketika berumur 16 tahun pada tanggal 7 Juli 1957, Pelé memperkuat tim nasional Brazil melawan Argentina serta berhasil mencetak satu-satunya gol dengan skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina. Datang menjelang Piala Dunia tahun 1958, dan dunia terperangah dengan kehadiran si Mutiara Hitam ini. Akselerasinya yang mengagumkan serta tembakan yang keras dan terarah benar-benar membangkitkan decak kagum bagi siapapun. Ia cukup dengan melenggang ke lapangan hijau, dan seketika itu gemuruh penonton meledak tiada hentinya mengelu-elukan dirinya. Sesudah penampilannya di Piala Dunia 1962, tim raksasa eropa seperti Real Madrid, Manchester United dan Juventus mulai mengincarnya. Namun hal ini dicegah oleh pemerintah Brasil dengan mengatakan bahwa Pelé adalah bagian dari harta karun negara dan tidak diperbolehkan bermain sepakbola di luar Brasil. Julukan si Raja diberikan terhadap Pelé oleh pers Perancis pada tahun 1961 semenjak ia memperkuat SFC di beberapa pertandingan di Eropa.

Trofi pertama untuk Pelé bersama Santos adalah Campeonato Paulista atau juara liga dimana Pelé secara menakjubkan keluar sebagai pancetak gol terbanyak dengan 56 gol, sebuah rekor yang tetap bertahan sampai sekarang. Setahun kemudian O Rei mempersembahkan trofi Torneio Rio-São Paulo dimana Santos mengalahkan Vasco da Gama 3-0. Sayangnya Santos tidak mampu mempertahankan trofi Campeonato Paulista. Pada 1960 Pelé berhasil membawa Santos memenangkan trofi Campeonato Paulista akan tetapi kalah dalam Torneio Rio-São Paulo. Pelé menyelesaikan kompetisi dengan mencetak 47 gol. Sepanjang kariernya di Santos Pelé telah mempersembahkan 10 trofi Campeonato Paulista, 4 trofi Torneio Rio-São Paulo, 5 trofi Taca Brazil, 1 trofi Recopa Int. dan trofi Torneio Roberto Gomes Pedrosa. Santos kemudian berpartisipasi dalam Copa Libertadores, turnamen paling bergengsi di Amerika Selatan, dimana Pelé berhasil membawa Santos meraih trofi tersebut 2 kali pada tahun 1962 dan 1963 dan menjadi Top Skorer turnamen pada 1965. Pelé juga mengantarkan Santos menjuarai Piala Interkontinental yang sekarang menjadi turnamen Piala Dunia Antarklub pada tahun 1962 mengalahkan Benfica 3-2 dan 4-2 dan 1963, mengalahkan AC Milan 2-4, 4-2 dan play-off 1-0. Pada 19 November 1969 Pelé mencetak gol ke 1.000-nya untuk Santos. Gol itu dicetak Pelé ketika berhadapan dengan Vasco da Gama lewat tendangan pinalti. Penampilan Pelé bersama Santos telah membuatnya berkeliling dunia dalam berbagai laga eksebisi. Salah satunya pada 1967 dimana Santos bersama Pelé tampil di Nigeria di tengah-tengah perang saudara. Tampilnya Pelé membuat perang tersebut mengalami gencatan senjata selama 48 jam agar rakyat bisa menyaksikan Pelé tampil dalam laga eksebisi di Lagos, Nigeria.

Mimpi buruk bagi Corinthians

Selama 10 tahun Pelé membela bendera Santos, klub Corinthians do Parque de São Jorge tidak pernah mampu mengalahkan Santos. Hasil-hasil pertemuan kedua tim tersebut adalah sebagai berikut:

14 September 1958: 1-0, 1 gol Pelé
7 Desember 1958: 6-1, 4 gol Pelé
30 April 1959: 3-2, 1 gol Pelé
26 Agustus 1959: 3-2, 1 gol Pelé
27 Desember 1959: 4-1, 2 gol Pelé
31 Juli 1960: 1-1, 1 gol Pelé
30 Nopember 1960: 6-1, 1 gol Pelé
3 Desember 1960: 1-1, 0 gol Pelé
23 September 1962: 5-2, 1 gol Pelé
3 Nopember 1962: 2-1, 1 gol Pelé
3 Maret 1963: 2-0, 2 gol Pelé
21 September 1963: 3-1, 3 gol Pelé
14 Desember 1963: 2-2, tidak main
18 Maret 1964: 3-0, 1 gol Pelé
30 September 1964: 1-1, 1 gol Pelé
6 Desember 1964: 7-4, 4 gol Pelé
15 April 1965: 4-4, 4 gol Pelé
29 Agustus 1965: 4-3, 2 gol Pelé
14 Nopember 1965: 4-2, 2 gol Pelé
8 Oktober 1966: 3-0, 0 gol Pelé
17 Desember 1966: 1-1, tidak main
13 Mei 1967: 1-1, 1 gol Pelé
10 September 1967: 2-1, tidak main
10 Desember 1967: 2-1, 1 gol Pelé

Pertama kali Corinthians berhasil menaklukkan Santos setelah periode tersebut adalah pada tanggal 6 Maret 1968 dengan skor 2-0.

Pelé bermain untuk terakhir kalinya selama 21 menit bersama Santos Futebol Clube dalam suatu pertandingan pada tanggal 3 Oktober 1974, mulai jam 21:08. Santos memenangkan pertandingan melawan Ponte Preta tersebut dengan skor 2-0 melalui gol Cláudio Adão dan gol bunuh diri dari Geraldo. Tetapi pertandingan sempat terhenti bagi para penggemar ketika:

Di menit ke 21, ketika Pelé secara tak terduga menangkap bola dengan kedua belah tangannya, kemudian berlutut di tengah lapangan dan mengangkat kedua tangannya, menyebabkan gemuruh di stadion Vila Belmiro seketika menjadi tercengang menyaksikan adegan tersebut. Tetapi hanya berlangsung sejenak. Penonton segera menyadari bahwa Pelé telah memutuskan untuk mengakhiri karirnya sebagai pemain sepakbola terbaik sepanjang masa.

Pada tahun 1974, Pelé tampil sebagai duta sepakbola untuk Amerika Serikat dalam rangka memopulerkan sepak bola bersama dengan Franz Beckenbauer dan Johan Cruyff. Pelé bergabung dengan klub New York Cosmos. Walaupun telah berumur 34 tahun, namun kemampuan Pelé masih memukau. Dia bahkan mengantarkan New York Cosmos menjadi juara NASL (North American Soccer League) pada tahun ketiga nya. Total Pelé tampil dalam 107 pertandingan dan mencetak 64 gol.

Pelé dan Piala Dunia

Pelé turut ambil bagian dalam 4 kali Piala Dunia: Swedia tahun 1958, Chili tahun 1962, Inggris tahun 1966 dan Meksiko tahun 1970. Ia berhasil membukukan 12 gol dalam 14 kali pertandingan Piala Dunia.

Swedia 1958
Pertama kali Pelé ambil bagian dalam Piala Dunia ini adalah pada pertandingan ketiga, ketika berhadapan dengan Soviet. Ia diterjunkan atas saran dari para official tim kepada Vicente Feola untuk menurunkan Pelé dan Garrincha setelah mereka memenangi dua pertandingan terdahulu melawan Austria dengan 3-0 dan seri 0-0 melawan Inggris. Pada pertandingan pertama tersebut Pelé belum berhasil menjaringkan gol, tetapi tim Brazil berhasil menekuk Soviet dengan skor 2-0 yang dihasilkan oleh Vavá. Di pertandingan berikutnya Pelé membukukan gol satu-satunya bagi tim Brazil. Ketika Brazil berhasil mempecundangi Perancis di semi final dengan skor mencolok 5-2, Pelé melakukan hat trick dengan 3 gol sedangkan Vavá dan Didi masing-masing 1 gol. Di partai final berhadapan dengan Swedia, Pelé menjaringkan 2 gol, demikian pula Vavá 2 gol dan Zagalo 1 gol untuk hasil akhir 5-2.

Chili 1962
Dalam partai pertama yang dimainkan tim Brazil melawan Meksiko, Pelé mencetak satu gol dan Brazil memenangi pertandingan tersebut. Sayangnya, kendati kejuaraan ini termasuk milik Pelé, tetapi ia terpaksa diistirahatkan lebih awal sebagai ujung tombak. Memasuki menit kesepuluh ketika berhadapan dengan Cekoslowakia, otot kakinya tertarik dan ia harus ditarik keluar dari pertandingan ini dan partai-partai berikutnya. Piala yang diraih Brazil kemudian mejadi milik Mané Garrincha, sementara posisi Pelé digantikan oleh Amarildo.

Inggris 1966
Sejak semula, segala sesuatunya terasa serba salah bagi tim Brazil untuk menghadapi kejuaraan ini. Bagaimanapun, 43 pemain akhirnya direkrut untuk memperkuat pasukan Brazil. Namun ketika tim bertolak ke Eropa, dua pemain terbaik mereka yaitu penjaga gawang Valdir dan penyerang Servilio dikeluarkan dari tim. Di pertandingan pertama, Brazil mengalahkan Bulgaria dengan 2-0 hasil dari kaki Pelé 1 gol dan satunya oleh Garrincha. Kemudian Brazil kalah 3-1 melawan Hungaria dan di pertandingan berikutnya melawan Portugis, Pelé terpaksa harus ditarik keluar lapangan karena dua kali cidera oleh pemain-pemain Portugis yang bermain sangat kasar. Pergantian itu dilakukan sebagai peringatan terhadap tim lawan.

Meksiko 1970
Ini adalah kejuaraan yang menganugerahkan Piala Tetap Jules Rimet bagi Brazil. Di pertandingan pertama, Brazil menjungkalkan Cekoslowakia 4-1 melalui 2 gol dari Jairzinho, masing-masing 1 gol oleh Pelé dan Rivelino. Korban berikutnya menyusul Inggris yang ditekuk 1-0 melalui gol Jairzinho. Kemudian Brazil memenangi 3-2 atas Rumania melalui 2 gol dari Pelé dan satu gol dari Jairzinho. Kemengangan berikutnya diraih atas Peru dengan skor 4-2. Brazil melaju ke puncak setelah dalam babak semi final mempecundangi Uruguay dengan skor 3-1. Di partai Final Brazil melibas tim Itali dengan skor telak 4-1 melalui gol-gol dari Pelé, Gérson, Jairzinho, dan Carlos Alberto. Dalam kejuaraan ini, Pelé juga membukukan 3 kali kesempatan emas terbaik dalam sejarah, sehingga membuahkan julukan penyelamatan terbaik bagi penjaga gawang Inggris, Banks, sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia ketika ia menggagalkan sundulan kepala dari Pelé.

Kenangan tentang Pelé yang tak terlupakan

Di tahun 1993, Pelé diangkat sebagai anggota Dewan Kehormatan Sepak Bola Amerika Serikat. Setelah Pelé bermain di sebuah stadion di Lima, ibukota Peru, di dinding stadion terpampang papan bertuliskan "Pelé pernah bermain disini." Suatu kali ia bahkan menghetikan perang sipil (lihat di atas) di Nigeria: 48 jam gencatan senjata ditandatangani dengan Biafra sehingga kedua belah pihak dapat menyaksikan pertandaingan eksebisi yang dimainkan oleh Pelé. Ketika ia pamit dari tim nasional pada tanggal 18 Juli 1971, 200.000 orang tumpah ruah di monumen Maracanã, dan ia menghadiahkan kaos bernomor punggungnya yang bersejarah yaitu nomor 10 kepada seorang anak berusia 10 tahun.

Pelé adalah satu-satunya orang yang berhasil memboyong 3 kali Piala Dunia sebagai pemain (1958, 1962 dan 170) dan mencetak 1.281 (atau 1284) gol di 1.363 pertandingan profesional yang barangkali ini merupakan rekor sepanjang masa di dunia sepakbola. Ini adalah rata-rata gol sepanjang masa dengan 0,93 gol tiap pertandingan. Pada tahun 1959 ia mengukuhkan diri sebagai pencetak gol terbanyak di liga São Paulo dengan 126 gol dalam satu musim kompetisi. Pada tanggal 21 Nopember 1964, ia mencetak 8 gol dalam satu pertandingan melawan Botafogo dari Rio de Janeiro. Tanggal 19 Nopember 1969 ketika ia mencetak golnya ke-1.000 yang sangat terkenal dari titik penalti di menit ke 34 melawan Vasco da Gama, ia mendedikasikan gol tersebut kepada para anak-anak miskin dan orang-orang jompo yang menderita di Brazil. Pele juga mencatatkan diri sebagai pemain yang pernah enam kali mencetak lima gol dalam satu pertandingan, 30 kali quattrick, dan tak kurang dari 92 kali hattrick. Pelé juga turut ambil bagian dalam apa yang dikenal dengan "Usia Emas" dari Libertadores Cup dari 1960 sampai1963 dimana Peñarol, kesebelasan dari Uruguay, menjadi langganan bertemu Santos di babak final. Peñarol memenangkan pertandingan pada 1960 dan 1961 sedangkan Santos merebut gelar juara berturut-turut pada 2 tahun berikutnya.

Pelé memberikan inspirasi atas peranan pengatur irama permainan sebagai tipe pemain tengah. Ia selamanya memimpin pemain-pemain hebat Brazil lainnya seperti Vavá, Didi, Garrincha, dan masih banyak lagi. Banyak yang memberikan penilaian bahwa Pelé tetap akan menjadi pemain terbaik seandainya dia ditempatkan pada posisi manapun. Pelé bahkan pernah suatu kali bersikukuh kepada manajer Santos untuk bermain sebagai penjaga gawang. Pada tanggal 19 Januari 1964 ia menggantikan posisi Gilmar, penjaga gawang Santos yang dikeluarkan oleh wasit, dalam babak semi final Piala Brazil. Selama lima menit, setelah menciptakan 3 gol, Pelé menggunakan nomor punggung 1 dan melakukan dua kali penyelamatan yang spektakuler sehingga mengamankan jalan bagi Santos untuk menuju babak final.


Referensi:

Minggu, 16 Februari 2014

Sejarah Sepak Bola Brazil

Pelabuhan Santos, suatu hari pada 1894. Seorang pria tampak geliasah. Dia adalah John Miller, ekspatriat yang bekerja membuat rangkaian rel kereta api di So Paolo. Hari itu, dia menantikan si anak, Charles Miller, yang usai menimbal ilmu di negeri leluhurnya, Inggris, tepatnya Southampton. Dia berharap sang anak turun dengan ijazah hasil pendidikannya.

Akan tetapi alangkah terkejutnya John ketika melihat Charles menuruni tangga kapal dan tiba di hadapannya. Charles menenteng dua buah bola sepak. Satu di tangan kanan, satu lagi di tangan kiri. "Charles, apa itu?" tanya John seketika. Sang anak dengan ringan menjawab, "Ini diplomaku, ayah." Aku lulus dari pendidikan sepak bola."

Penggalan cerita itulah yang tersurat dalam buku Futebol, The Brazilian Way of Life ketika sang penulis, Alex Bellos, berkisah tentang awal mula kedatangan sepak bola Brasil. Seperti di negara-negara lain, sepak bola memang datang ke negeri Samba lewat orang Britania Raya. Bedanya, Charles Miller sebenarnya orang Brasil. Ayahnya, John, berasal dari Inggris. Sementara sang ibu asli dari Brasil.

Pada 1884, John sengaja mengirim Charles yang kala itu berumur 10 tahun ke Inggris. Maksudnya agar Charles mendapat pendidikan yang baik tentang segala hal. Di Bannisters School, Charles mendapatkan itu semua. Namun selain itu, di sana pula ia mengenal sepak bola dan menjadi pemain ulung hingga mendapat kesempatan bergabung dengan St. Mary's, klub yang menjadi cikal bakal Southampton sekarang.

Sejarah itu mendapat pertentangan dari Richard McBrearty, kurator dari museum sepak bola Skotlandia. Pada 2011 dia menemukan fakta bahwa Thomas Donohue, ekspatriat asal Skotlandia, yang membawa sepak bola ke Brasil saat bekerja di pabrik tekstil di Bangu, Rio De Jeneiro pada 1893. Enam bulan sebelum Miller membentuk klub So Paolo, tepatnya di suatu minggu pada April 1894, pertandingan sepak bola pertama digelar dengan satu tim hanya berisi lima pemain.

"Miller memang figur penting, tetapi seharusnya Donohue juga dihargai sebagai orang yang mengenalkan sepak bola di Brasil dan kepada orang-orang miskin yang lantas menjaga permainan itu tetap hidup," terang MvBrearty seperti dikutip Herald Scotland pada 24 Maret 2011.

Kontribusi Imigran 

Terlepas dari kontroversi soal Miller dan Donohue, satu hal yang pasti, sejarah awal sepak bola Brasil tak bisa dilepaskan dari peran ekspatriat. Selain Miller dan Donohue, ada sosok-sosok lain yang memegang peranan penting, diantaranya adalah Oscar Cox dan Hans Nobiling.

Jika Miller menjadi sosok sentral perkembangan sepak bola Sao Paolo dengan mendirikan klub di sana dan lantas menggelar kompetisi di wilayah itu pada 1902, Cox berkontribusi besar di Rio de Jeneiro. Seperti Miller, Cox juga Anglo Brazilian. Namun dia mengenal sepak bola saat menimba ilmu di Laussane, Swiss. Setelah mengenalkan sepak bola pada 1901, Cox mendirikan Fluminense bersama 19 rekannya.

Sementara itu, Nobiling yang berasal dari Jerman berkontribusi dalam mengenalkan peraturan sepak bola. Pada 1897, Nobiling yang pernah membela tim junior SC 1887 Germania, cikal bakal Hamburger SV, membawa peraturan sepak bola yang berlaku di klubnya ke Brasil. Lalu dia mendirikan SC Internacional setelah ditampik Sao Paolo.

Mengingat pengaruh sangat besar dari ekspatriat dari Eropa, sepak bola di Brasil pada awalnya hanya berkembang di kalangan eknomi atas yang didominasi orang-orang berkulit putih. Orang-orang kulit hitam hanya bisa menonton, itu pun dari atap rumah dengan mencuri-curi. Namun, pada akhirnya mereka bisa bergabung juga. Bangu Athletic Club, klub yang didirikan Donohue, tercatat sebagai pionir dalam hal ini.

Itu menjadi tonggak tersendiri. Pasalnya, seperti diakui Belo dan ditegaskan McBrearty, hanya dengan keterlibatan orang kulit hitamlah sepak bola menjadi budaya di Brasil. Bahkan sejarah mencatat, superstar pertama adalah peranakan kulit hitam. Dia adalah Artur Friedenreich dan wanita Brasil berkulit hitam, Mathilde.

Friedenreich memulai kiprahnya di klub pecahan dari Internacional, SC Germania, pada 1909. Sebuah catatan menyatakan dialah orang yang lebih dulu membukukan lebih dari 1000 gol dibanding Pele. Sayangnya, Friedenreich tak sempat mendunia. Pada 1930, dia gagal bermain di Piala Dunia karena timnas Brasil hanya boleh diisi pemain-pemain asal Rio de Jeneiro, sementara dia tinggal di Sao Paolo.

Terbentuknya Timnas
Pada tanggal 21 Juli 1914, pemain-pemain terbaik dari klub-klub di Rio de Janeiro dan Sao Paulo bersatu untuk menghadapi klub asal Inggris, Exeter City, dan dari situlah tonggak berdirinya tim nasional Brasil yang kemudian menjadi 'raja' sepakbola.

Exeter City terbang ke Amerika Selatan atas kehendak pemain-pemain Argentina, yang telah mengirimkan permintaan kepada FA agar mengirim tim untuk menghadapi tim-tim lokal di sana. FA memilih Exeter City, yang saat itu sedang bertengger di papan tengah Southern League, sebagai perwakilan Inggris.

Usai menjalani serangkaian pertandingan di Argentina, Exeter City dijadwalkan menjalani tiga laga uji coba di Brasil sebelum kembali ke Inggris. Mereka menang 3-0 di pertandingan pertama menghadapi ekspatriat Inggris di sana, kemudian mereka mengalahkan tim Rio selection dengan skor 5-3. Untuk pertandingan terakhir, Rio mengabaikan rivalitas lokal dan meminta bantuan kepada Sao Paulo untuk mengirim pemain terbaik mereka.

Penonton yang datang ke pertandingan antara tim Brasil All Star menghadapi Exeter City membludak, Stadion Laranjeiras, Rio, sesak dipenuhi 10 ribu suporter. Setelah tim Brasil unggul 1-0 melalui gol Oswaldo Gomes, tim tamu bermain kasar, dikabarkan striker tim Brasil Artur Friedenreich ditabrak dengan sangat keras sehingga kehilangan dua gigi di laga tersebut. Tim Brasil membalas perlakuan tersebut dengan mencetak gol tambahan, kali ini melalui Osman, sehingga kedudukan berakhir dengan skor 2-0.

Sejak saat itu, tim nasional Brasil terus berkembang hingga saat ini menjadi tim paling sukses dengan mencatatkan rekor sebagai tim yang paling banyak memenangkan trofi Piala Dunia.


Referensi:
 
Copyright © 2014 Soccer History.