BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label Champions. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Champions. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Februari 2014

Tragedi Heysel, Sejarah Kelam Sepak Bola Eropa

Bagi penggemar setia sepak bola siapa tidak ingat dengan peristiwa 29 Mei 1985 silam. Pertandingan antara dua klub raksasa, yakni Juventus dari Italia dan Liverpool dari Inggris. Final kompetisi Piala Champion (kini bernama Liga Champion), menjadi hari kelabu dalam sejarah dunia sepakbola. Kondisi kedua klub sedang berada di puncak performa. Juventus pada 1984 baru saja memenangi kejuaraan Winner's Cup dan penyerang mereka, Michel Platini asal Prancis, tiga kali meraih penghargaan Ballon d'Or atau pemain terbaik di Eropa pada tahun 1983 hingga 1985. Beberapa pemain inti di tim nasional Italia yang menang pada kompetisi Piala Dunia 1982 juga diambil dari kesebelasan berjuluk I Bianconeri itu. Liverpool juga tidak kalah hebat saat itu. Setelah setahun sebelumnya mereka mengalahkan kesebelasan A.S. Roma dari Italia, The Reds yang empat musim juara kompetisi Liga Champion bertekad mempertahankan gelar itu. Meski begitu, rupanya para hooligans, julukan bagi suporter sepakbola asal Inggris, menaruh dendam kepada pendukung asal Italia karena pada 1984 saat laga Liverpool melawan A.S. Roma, mereka diserang sebelum dan setelah pertandingan.

Kondisi Stadion Heysel, saat itu sudah berusia lebih dari separuh abad, dan banyak fasilitas kurang layak juga dituding sebagai salah satu yang memperburuk peristiwa itu. Selain tidak terawat, beberapa bagian stadion terbuat dari bahan ringkih. Para pendukung yang tidak kebagian tiket bisa menjebol tembok terbuat dari batako berlubang. Direktur Liverpool Peter Robinson saat itu sudah mengeluhkan buruknya keadaan stadion itu dengan melapor kepada Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA). Para pendukung dan pemain kesebelasan Inggris, Arsenal, bermain di sana beberapa tahun sebelumnya mengatakan kalau tempat itu seperti tempat sampah.

Robinson mendesak UEFA agar pertandingan dilangsungkan di Stadion Camp Nou milik kesebelasan Barcelona atau Santiago Bernabeau kepunyaan klub Real Madrid asal Spanyol. Tetapi sarannya tidak digubris dan Asosiasi Sepak Bola Eropa tetap berkeras menyelenggarakan partai final Liga Champion 1982 di Stadion Heysel.

Saat tiba hari pertandingan, Stadion disesaki 50 hingga 60 ribu suporter dari kedua kesebelasan. Walau tempat duduk mereka sudah dipisah, pendukung Juventus ditempatkan di sektor O, N, dan M, sementara pendukung Liverpool duduk di area X, Y, Z. Rupanya tetap saja para hooligan itu merangsek mendekati kubu lawan. Suasana saat itu sudah sangat panas karena kedua kubu saling menyanyikan lagu mars kebanggaan sembari mengibarkan bendera kesebelasan kebanggaan.

Lalu tiba-tiba sekitar satu jam sebelum kick off kelompok hooligan Liverpool menerobos pembatas masuk ke wilayah tifosi Juventus. Tidak terjadi perlawanan karena yang berada di bagian tersebut bukanlah kelompok Ultras. Pendukung Juventus pun berusaha menjauh namun kemudian sebuah tragedi terjadi. Dinding pembatas di sektor tersebut roboh karena tidak kuasa menahan beban dari orang-orang yang terus beruhasa merangsek dan melompati pagar. Ratusan orang tertimpa dinding yang berjatuhan. Akibat peristiwa ini sebanyak 39 orang meninggal dunia dan 600 lebih lainnya luka-luka.

Meskipun terjadi peristiwa yang mengenaskan dengan jumlah korban yang begitu besar, panitia memutuskan untuk terus melanjutkan pertandingan. Kick off dilakukan setelah kapten kedua kesebelasan meminta penonton untuk tenang. Alasan lain adalah untuk meredam atmosfer kerusuhan yang mulai menyebar. Tifosi Ultras Juventus di bagian lain stadion sempat akan melakukan pembalasan. Mereka mencoba untuk bergerak ke arah pendukung Liverpool namun berhasil dicegah satuan keamanan. Dengan dimulainya pertandingan maka suasana bisa mulai dikendalikan. Pertandingan itu sendiri dimenangi Juventus dengan hasil akhir 1 - 0. Michel Platini mencetak gol semata wayang Juventus dari titik penalti setelah Michael Platini dilanggar oleh pemain Liverpool.

Konsekuensi

Kepolisian Inggris menyelidiki lebih lanjut dari berbagai sumber. Film sepanjang 17 menit dan berbagai hasil jepretan kamera menjadi alat untuk mengungkap kejadian tersebut. TV Eye menayangkan satu jam penuh perihal Tragedi Heysel, dan foto-foto pun dipublikasikan melalui media massa. Hanya 27 orang akhirnya ditahan dengan kasus penganiayaan dan pembunuhan, sebagian besar mereka berasal dari Merseyside dan memang telah beberapa kali berurusan dengan hukum karena kerusuhan sepakbola. 14 orang pendukung Liverpool itu akhirnya dipidana atas dakwaan tersebut.

Setelah penyelidikan lebih lanjut, pada tanggal 30 Mei 1985 UEFA melalui penyidik resminya, Gunter Schneider, menyatakan bahwa kesalahan sepenuhnya ada di pihak Liverpool. Bahkan kemudian, pada tanggal 31 Mei 1985, Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher mendesak FA untuk melarang tim-tim Inggris untuk bermain di Eropa. Dua hari kemudian UEFA secara resmi memutuskan untuk melarang semua klub sepakbola Inggris untuk melakukan pertandingan di seluruh Eropa untuk "waktu yang belum ditentukan". Tanggal 6 Juni putusan itu berubah menjadi pelarangan bertanding di seluruh dunia, namun seminggu kemudian diputuskan bahwa pertandingan persahabatan diperbolehkan. Sanksi ini tidak berlaku untuk Timnas Inggris.

Putusan terakhir adalah pengucilan klub-klub Inggris dari peta persepakbolaan dunia selama lima tahun, dan tiga tahun tambahan khusus untuk Liverpool dan akhirnya mendapat keringanan dengan hanya satu tahun tambahan. Peristiwa Heysel telah merugikan klub-klub Inggris seperti Manchester United, Arsenal, Everton, Nottingham Forest, Chelsea, Tottenham Hotspur, dan lain-lain yang pada rentang waktu tersebut sebenarnya berhak untuk ikut ambil bagian dalam kompetisi Eropa.

Hukuman yang begitu berat tersebut adalah sebagai peringatan bahwa kekerasan dalam sepakbola tidak boleh terjadi kembali. Suporter asal Inggris memang terkenal akan kebrutalannya. Makanya dari sanalah muncul istilah "hooliganisme". 10 tahun sebelum tragedi ini, di final European Cup 1975 fans Leeds United membuat kerusuhan dengan menyerang suporter Bayern Muenchen, berikut pemain dan offisial. Masyarakat sepakbola mengutuk tindakan itu namun UEFA masih memberi keringanan dengan hanya menghukum dengan larangan bertanding di kejuaraan Eropa untuk Leeds United selama 4 tahun. Setahun sebelum Final Piala Champions 1985, sebenarnya hooligan Liverpool juga sudah bentrok dengan tifosi AS Roma dalam ajang yang sama. Namun keributan itu tidak sampai mendapat begitu banyak perhatian.

Peringatan

Sebuah tugu peringatan Tragedi Heysel didirikan dengan biaya £140,000. Diresmikan tepat 20 tahun setelah kejadian tersebut, 29 Mei 2005. Berbentuk jam matahari, tugu tersebut dihiasi dengan batu-batuan yang berasal dari Italia dan Belgia. Sebuah puisi "Funeral Blues" oleh penyair Inggris W. H. Auden melengkapi simbolisasi kesedihan tiga negara. 39 lampu bersinar untuk setiap korban Heysel. Tugu peringatan ini didesain oleh seniman Perancis Patrick Remoux.

Perdelapan final Liga Champions 2005 mempertemukan kedua tim. The Kop, di Liverpool mengkoordinasikan sebuah koreografi mosaik bertuliskan "Amicizia" ditujukan kepada para suporter Juventus yang memadati Anfield. Artinya persahabatan, sebuah permohonan maaf kepada tifosi Juventus. Sebagian tifosi menyambutnya, namun tidak sedikit pula yang menolaknya karena rentang waktu uluran persahabatan tersebut terlalu lama, 20 tahun sejak tragedi Heysel pecah.

Korban

39 suporter sepak bola meninggal dalam peristiwa ini, 32 suporter Juventus, 4 orang warga negara Belgia, 2 orang Perancis serta seorang Irlandia.
  • Rocco Acerra (29)
  • Bruno Balli (50)
  • Alfons Bos
  • Giancarlo Bruschera (21)
  • Andrea Casula (11)
  • Giovanni Casula (44)
  • Nino Cerrullo (24)
  • Willy Chielens
  • Giuseppina Conti (17)
  • Dirk Daenecky
  • Dionisio Fabbro (51)
  • Jacques François
  • Eugenio Gagliano (35)
  • Francesco Galli (25)
  • Giancarlo Gonnelli (20)
  • Alberto Guarini (21)
  • Giovacchino Landini (50)
  • Roberto Lorentini (31)
  • Barbara Lusci (58)
 
  • Loris Messore (28)
  • Gianni Mastrolaco (20)
  • Sergio Bastino Mazzino (38)
  • Luciano Rocco Papaluca (38)
  • Luigi Pidone (31)
  • Bento Pistolato (50)
  • Patrick Radcliffe
  • Domenico Ragazzi (44)
  • Antonio Ragnanese (29)
  • Claude Robert
  • Mario Ronchi (43)
  • Domenico Russo (28)
  • Tarcisio Salvi (49)
  • Gianfranco Sarto (47)
  • Amedeo Giuseppe Spolaore (55)
  • Mario Spanu (41)
  • Tarcisio Venturin (23)
  • Jean Michel Walla
  • Claudio Zavaroni (28)

Referensi :

Minggu, 16 Februari 2014

Sejarah Berdirinya UEFA Champions League

Adalah salah satu majalah dari Prancis yang pertama kali mencetuskan ide untuk mengadakan kompetisi Liga champion ini. Saat pertama kali digelar, kompetisi ini bernama European Champion Clubb’s Cup dan memperebutkan sebuah tropi atau piala yang berjuluk “The Big Ears” atau “Telinga Besar”. Entah filosofi apa yang membuat piala ini berjuluk demikian. Mungkin karena pegangannya yang mirip telinga besar adalah salah satu alasannya.

Kompetisi antarklub juara Eropa ini pertama kali digelar pada musim kompetisi 1955/1956. Sistem kompetisi yang digunakan saat itu adalah sistem gugur dua leg atau saat ini dikenal dengan sistem kompetisi home and away. Klub dengan skor rata-rata tertinggi adalah yang akan maju ke babak berikutnya. Pada musim keduanya, hanya klub-klub pemegang gelar juara liga domestik dan 1 juara bertahan kompetisi inilah yang berhak mengikuti ajang ini.

Mulai musim 1992/1993, format kompetisi ini berubah dan namanya pun ikut diganti menjadi UEFA Champions League. Sistem kompetisi ini jadi menggunakan tiga babak kualifikasi. Babak kualifikasi grup pertama kompetisi ini menerapkan sistem round robbin, yakni klub-klub yang berada dalam satu grup saling berhadapan satu sama lain secara home and away.

Klub-klub dengan peringkat 2 teratas dari masing-masing gruplah yang lolos ke putaran selanjutnya, yaitu fase Knock Out. Kualifiksai ini pun digelar dengan menggunakan sistem home and away. Sedangkan untuk putaran final, kompetisi ini hanya digelar satu kali pertandingan di tempat yang telah ditentukan oleh UEFA sebelum kompetisi ini dimulai.

Sejak pertama kali digelar hingga saat ini, terdapat beberapa klub yang memegang rekor terbanyak untuk koleksi piala Liga champion. Real Madrid adalah pengoleksi terbanyak piala dengan menjuarai kompetisi ini sebanyak 9 kali. Berikutnya terdapat AC Milan yang pernah menjadi juara sebanyak 7 kali, Liverpool 5 kali, Bayern Munchen dan Ajax 4 kali, serta MU, Inter Milan, dan Barcelona yang mengoleksi 3 gelar juara.

Siapa-siapa saja yang berhak mengikuti kualifikasi Liga champion ini ditentukan oleh klasemen terakhir klub di liga domestik masing-masing dengan melalui sistem kuota yang berbeda. Sistem kuota ini ditentukan oleh peringkat terbaik liga domestiik yang didasarkan pada keputusan UEFA.  Liga Spanyol dan Liga Inggris berhak mengirimkan 4 wakilnya untuk mengkuti kompetisi ini, Liga Italia 4 wakil (namun mulai musim 2011/2012 kuotanya dikurangi menjadi 3 karena peringkatnya dinilai menurun dibanding dengan Liga Jerman), Liga Jerman 3 wakil (mulai musim 2011/2012 manjadi 4 wakil), dan liga-liga Eropa lainnya berhak mengirimkan 2 wakilnya.


Sumber:
 
Copyright © 2014 Soccer History.