BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Februari 2014

Rivalitas dan Konflik Antar Suporter di Indonesia

Indonesia merupakan negara besar dan memiliki keanekaragaman budaya di setiap daerahnya, tak terkecuali pula dengan olahraga sepakbola. Sepakbola yang merupakan olahraga terpopuler di dunia, sangat banyak di minati oleh para penduduk Indonesia utamanya penduduk yang berjenis kelamin laki-laki. Indonesia yang merupakan negara besar, memiliki ratusan atau bahkan ribuan klub sepakbola mulai dari tingkatan rendah hingga tingkatan tinggi macam Persipura, Arema, Persija, Persib, dll. Sepakbola Indonesia juga tak lepas dari peran suporter, jika tidak ada suporter yang mendukung tim kesayangannya, mana mungkin kompetisi sepakbola di Indonesia ini menjadi kompetisi yang kompetitif. Aroma persaingan antar suporter pun acapkali mewarnai perjalanan panjang persepakbolaan Indonesia, rivalitas antar suporter hingga menimbulkan konflik antar suporter selalu terjadi di persepakbolaan tanah air kita tercinta.

Berikut beberapa rivalitas dan konflik antar kelompok suporter di Indonesia

1. Aremania vs Bonek Mania


Entah kapan konflik dan rivalitas antar suporter yang nota bandnya adalah kota yang saling berdekatan ini mulai muncul, sebelum admin lahirpun rivalitas antar dua kubu suporter ini memang sudah terjadi hingga menyebabkan korban jiwa bagi keduanya. Dari beberapa artikel yang admin baca, rivalitas dan konflik yang terjadi antara Aremania vs Bonek Mania adalah “gengsi daerah”, masing-masing menganggap kotanya lebih kuat dan lebih hebat.

Berbicara masalah persaingan dan rivalitas dua elemen suporter di Jawa Timur ini, maka kita tidak dapat mengesampingkan sejarah dan kultur sosial masyarakat masing-masing kota. Malang yang secara demografis adalah sebuah kota yang ada di pinggiran gunung, dimana pembangunan-pembangunan yang dilakukan sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda hingga zaman Orde Baru membawa kemajuan yang sangat pesat bagi kota ini. Kemajuan yang membuat masyarakatnya merasa mampu untuk menyaingi kota metropolitin sekelas Surabaya. Surabaya yang selalu dianggap ‘number one’ dalam berbagai kondisi membuat masyarakat Malang tidak terima dan menganggap arek Suroboyo adalah saingan utama mereka. Dalam tataran propinsi misalnya, dimana Malang merupakan kota kedua setelah Surabaya. Hal ini memicu kecemburuan sosial yang sangat tinggi oleh arek Malang terhadap arek Suroboyo .

Kondisi ‘tidak mau kalah’ ini membuat suhu konflik Malang-Surabaya begitu panas. Begitu juga dengan sepakbola, dimana suporter asal Malang selalu berusaha menyaingi suporter asal Surabaya.Jika Bonek Mania dikenal dengan sebutan Bondho duwit, sedangkan Aremania Bondho duit. Adapula jika Bonek Mania menebarkan virus permusuhan, sedangkan Aremania menyebarkan antivirusnya yakni aroma perdamaian.

Rivalitas keduanya tidak hanya hadir lewat kerusuhan dan peperangan, tetapi juga dengan nyanyian-nyanyian saat mendukung tim kesayangannya. Bonekmania, di kala pertandingan Persebaya melawan tim manapun, pasti akan menyanyikan lagu-lagu yang menghina Arema dan Aremania. Begitu pula Aremania, di kala pertandingan kandangnya juga sering menghujat Bonek.Hingga saat ini pun, kata ‘DAMAI’ belum bisa tercapai antar kedua elemen kelompok suporter ini, Mungkin benar kata orang, Aremania dan Bonekmania adalah musuh abadi.

2. Viking dan The Jackmania


Admin sendiri tidak mengetahui dengan jelas, kapan awal perseturuan antar kedua kelompok suporter besar di Indonesia ini saling berkonflik. Menurut artikel yang admin baca, rivalitas keduanya dimulai pada tahun 2000 yang bertepatan dengan berlansungnya Liga Indonesia VI. Saat itu pertandingan antara Persib Bandung vs Persija Jakarta, The Jackmania yang akan mendukung tim pujaannya bertanding di stadion Siliwangi, Bandung menerima perlakuan tidak enak dari oknum bobotoh karena alasan, bobotoh mereka juga diperlakukan dengan tidak simpatik di Jakarta ketika menyaksikan pertandingan Persijatim vs Persib di Lebak Bulus, The Jackmania pun akhirnya tidak bisa masuk ke dalam stadion Siliwangi, Bandung.

Ketika rombongan hendak pulang, tiba2 The Jakmania diserang lagi oleh bobotoh yang masih nunggu di luar stadion. Kondisi ini jelas tidak bisa diterima oleh The Jakmania. Sudah ga bisa masuk masih juga diserang. Akhirnya The Jakmania balas perlakuan mereka (Oknum Bobotoh). Jumlah bobotoh di luar stadion masih ratusan sehingga terjadilah bentrokan yang mengakibatkan pecahnya kaca2 mobil akibat terkena lemparan dari kedua kubu. Ketika polisi datang, keributan mereda dan the Jakmania mulai beranjak pulang. Sempat pula terjadi bentrok beberapa kali ketika rombongan berpapasan dengan bobotoh yang pulang karena tidak kebagian tiket.

Sejak saat itulah api dendam dan permusuhan terus berkobar di kedua belah pihak. Puncaknya di acara Kuis Siapa Berani di Indosiar. Acara ini diprakarsai oleh Sigit Nugroho wartawan Bola yang terpilih menjadi Ketua Asosiasi Suporter Seluruh Indonesia.

Kebodohan the jak terekspos keseluruh negeri ketika mereka tak berdaya menghadapi Viking dalam kuis Siapa Berani. Kuis yang menguji wawasan dan kemampuan berpikir. Itu merupakan edisi khusus kuis Siapa Berani, edisi supporter sepak bola. Menghadirkan Viking, the jak, Pasoepati (Solo), Aremania, dan ASI (Asosiasi Suporter Indonesia). Pemenangnya, Viking. Perwakilan Viking berhasil melewati babak bonus dan berhak atas uang tunai 10 juta rupiah. Seperti biasanya, rasa iri dari the jak muncul. Malu dikalahkan di kotanya sendiri, ketua the jak saat itu, Ferry Indra Syarif memukul Ali, seorang Viker yang menjadi pemenang kuis. Sungguh perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang ketua. Ketuanya saja begitu, apalagi anak buahnya?

Kejadian itu terjadi di kantin Indosiar, ketika dilangsungkannya acara pemberian hadiah. Kontan keributan sempat terjadi, namun berhasil diatasi. Kesirikan the jak tak sampai disitu. Mereka menghadang rombongan Viking dalam perjalanan pulang menuju Bandung, tepatnya di pintu tol Tomang. Anak-anak Bandung yang berjumlah 60 orang pulang dengan menggunakan dua mobil Mitsubishi Colt milik Indosiar dan satu mobil Dalmas milik kepolisian. Ketiga mobil ini dihadang sebuah Carry abu-abu. Dua lolos, namun nahas bagi salah satu Mitsubishi Colt yang ditumpangi para anggota Viking. Mobil itu terperangkap gerombolan the jak. Kontan, mobil dirusak, Viking disiksa, dan uang para pendukung pangeran biru itu pun dijarah. Termasuk handphone dan dompet mereka. Tercatat sembilan anggota Viking mengalami luka-luka. Tiga diantaranya terluka parah. Namun sayang, pihak kepolisian lamban dalam menyelesaikan kasus ini. Termasuk dalam menangkap the jak yang merampok dan menganiaya anggota Viking Persib Club.

Hingga saat ini perseteruan kedua kelompok supporter itu masih terus berlanjut. Viking, yang memiliki anggota terbanyak di Indonesia, memiliki kreatifitas tinggi, terbukti dengan julukan “Bandung kota mode, musik, dan seniman” (bahkan the jak pun belanja ke Bandung), dengan the jak yang memiliki title kota ibukota. Entah kapan ini berakhir.

Menarik sekali membahas pertemuan Persib dan Persija karena dua klub ini merupakan dua klub legendaris dan memiliki sejarah besar sejak zaman Perserikatan dulu. Aroma klasik dan dendam selalu mewarnai pertandingan ini. Mungkin tensi pertandingan ini setara dengan Inter vs Juventus di Serie-A atau Barcelona vs Real Madrid di La Liga.

3. Benteng Viola vs Benteng Mania


Mungkin dari beberapa rivalitas suporter yang ada di persepakbolaan Indonesia, konflik dan rivalitas antara Benteng Viola vs Benteng Mania adalah paling miris, mengapa admin sebut demikian karena kedua elemen suporter ini sama-sama berasal dari Tanggerang bedanya hanya pada klub yang mereka dukung. Jika Benteng Viola mendukung Persita Tanggerang, sedangkan Benteng Mania mendukung Persikota Tangerang. Disetiap pertangdingan baik Persikota atau Persita, Benteng mania dan Viola Extrim selalu terlibat tawuran disekitar stadion, sehingga membuat arus kendaraan menjadi tersendat dan mengganggu warga sekitar stadion.

4. Persik Mania vs Aremania


Sepakbola di Jawa Timur memang panas, apalagi jika ada pertandingan big match derby jatim pastilah di tunggu-tunggu tuh pertandingan, selain adu gengsi antar klub Jawa Timur, juga pembuktian siapa klub terkuat di Jawa Timur. Selain itu juga rivalitas suporter, dan sekarang saatnya mendalami rivalitas antara kedua elemen suporter yakni Persikmania vs Aremania. Dari informasi yang admin baca, asal mula permusuhan antara Aremania vs Persikmania terjadi setelah manager tim Arema saat itu, Iwan Budianto melakukan penggembosan habis-habisaan di tim Arema. Saat itu Arema yang bermain di divisi utama yang berjalan kurang dari sebulan, Iwan Budianto melakukan migrasi ke persik dengan membawa beberapa pilar penting AREMA ke Persik Kediri yang saat itu berlaga di Divisi I dan bisa membuat Persik Juara Divisi I dan otomatis promosi ke Divisi Utama. Konflik berawal dari pertandingan antara Persik Kediri vs Arema, aremania datang dengan jumlah yang buanyak melebihi batas yang ditentukan panpel, lalu banyak yang masuk stadion Tidak membayar, Stadion Brawijaya banjir suporter baik dari malang maupun tuan rumah kediri. Singkat cerita PERSIK unggul 1-0 Arema. Hal ini membuat ribuan AREMANIA yang menempati tribun selatan gak terima trus melempari pemain, ternyata lama kelamaan gak hanya pemain yang dilempar tapi kerusuhan menjalar jadi bentok antar suporter AREMANIA VS PERSIK MANIA, hingga banyak jatuh korban dan diteruskan di luar stadion dan sepanjang jalur Kediri – Malang. Sejak kejadian itulah hubungan AREMANIA dan PERSIK MANIA sedikit memanas, tapi itu durung puncak dari pertikaian kedua kubu tersebut. Tepat pada tanggal 17 Januari 2008 di stadion BRAWIJAYA di gelar babak penyelisihan 8 besar. Saat itu AREMA Vs PERSIWA bermain di Stadion BRAWIJAYA, sebelum AREMA bermain AREMANIA sudah memenuhi TRIBUN timur stadion Brawijaya.

Beberapa jam setelah dibakarnya stadion brawijaya oleh aremania, ribuan persik mania yang tidak terima karena Stadion BRAWIJAYA yang merupakan markas tim Persik Kediri di bakar oleh Aremania, sepanjang perjalanan pulang ke malang AREMANIA terus Mendapat teror dari warga kediri yang jelas banyak benget kerusakan motor mobil,genting,kaca, cendela, dll. Itulah cerita asal muasal AREMANIA (suporter terbaik) mengapa sangat di benci oleh PERSIK MANIA. Kebencian itu kian subur ketika pertandingan ISL 20 januari 2009 PERSIK harus menjamu AREMA di luar kandang sebab Panpel dan keamanan tidak mau mengambil resiko memasukkan AREMA ke kota kediri. Mereka mengharamkanAREMA dan AREMANIA masuk kediri.


Sumber:

Minggu, 16 Februari 2014

Sejarah Sepak Bola Indonesia

Tidak banyak informasi yang kami dapat untuk menjelaskan kapan sepak bola mulai masuk ke Nusantara. Tetap akhirnya kami dapat menemukan uraian sejarah yang menurut kami paling lengkap yaitu dari situs goljebret.com. Tulisan tersebut dibagi atas 6 artikel, kami di sini hanya mengambil 1 artikel saja. Berikut kami sajikan informasi tersebut dengan langsung mengutip dari situs tersebut.

Melacak genesis sepakbola di Indonesia bukanlah pekerjaan mudah. Minim sekali sumber yang bisa secara meyakinkan untuk dijadikan rujukan. Sumber yang memungkinkan paling hanya laporan-laporan surat kabar.

Artikel yang dirilis Rec.Sport.Soccer Statistics Foundation [RSSSF] mencatat, pertama kali sepakbola disebut di Hindia Belanda itu terjadi di Medan. Pada 16 November 1887, berdiri Gymnastiek Vereeniging. Selain senam, asosiasi itu juga akhirnya memainkan olahraga kriket dan sepakbola, disusul kemudian tenis, atletik dan sepeda. Disebutkan, pada akhir 189-0an, sebuah tim dari Penang datang untuk bertanding. Pada pagi hari kedua tim bermain kriket dan sorenya bermain sepakbola.

Informasi itu belum menjelaskan kapan persisnya sepakbola mulai dimainkan di Hindia Belanda. Tanggal 16 November 1887 hanyalah tanggal berdirinya sebuah perkumpulan olahraga, bukan perkumpulan sepakbola. Cabang sepakbola baru masuk belakangan dalam perkumpulan tersebut. Ini agak mirip dengan kisah bagaimana sepakbola dimainkan orang-orang Tionghoa di Surabaya. Mulanya berdiri Gymnastiek Sport Vereniging Tionghoa pada 1908, barulah pada 1915 perkumpulan ini memiliki cabang sepakbola-nya [lihat artikel: Tionghoa dalam Sepakbola Indonesia].

Setelah pertandingan melawan tim dari Penang itu, sepakbola disebutkan tidak lagi dimainkan menyusul vakumnya kegiatan Gymnastiek Vereeniging itu. Sepakbola baru dimainkan kembali setelah lahirnya klub olahraga bernama “Sportclub Sumatra’s Oostkust” pada Juni 1899.

Di surat kabar De Sumatra Post edisi 31 Mei 1904 yang berhasil kami temukan, ada laporan berjudul “Het 5-jarig bestaan der Sportclub ‘Sumatra’s Oostkust’” [Perayaan 5 Tahun Klub Olahraga Pantai Timur Sumatera]. Selain menceritakan visi dan misi didirikannya klub olahraga itu, laporan itu juga menjelaskan betapa klub tersebut didirikan untuk melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh Gymnastiek Vereeniging sejak 1887.

Tapi dari situ terlihat masih sumirnya kapan persisnya sepakbola mulai dimainkan. Laporan De Sumatra Post mengenai Sportclub Sumatra’s Oostkust juga menjelaskan bagaimana sepakbola hanya menjadi salah satu cabang olahraga yang dimainkan, sama seperti yang terjadi Gymnastiek Vereeniging atau kelak di Gymnastiek Sport Vereniging Tionghoa di Surabaya.

Yang bisa dicatat dari laporan itu adalah betapa klub-klub olahraga itu sengaja didirikan untuk membentuk kekuatan dan kesehatan fisik, melatih mentalitas sekaligus sebagai sarana relaksasi/rekreasi pikiran dan fisik. Olahraga seperti kriket, tenis atau sepakbola dimainkan di Hindia Belanda pada mulanya lebih untuk bersenang-senang. Belum ada unsur prestasi, tapi lebih kepada aspek relaksasi dan rekreasi.

Proses yang mirip juga terjadi di negara jajahan lainnya yaitu India. Dalam studi berjudul “Football and Politics in Bengal: Colonialism, Nationalism, Communalism”, Paul Dimeo menjelaskan bagaimana sepakbola memang menjadi bagian dari gaya hidup orang-orang Inggris di India pada akhir abad 19. Tulis Dimeo, para penguasa Inggris di India secara sengaja mengekspor dan menciptakan kembali gaya hidup aristokrat di negeri asalnya. Salah satu yang dipraktikkan adalah gaya hidup berolahraga di lapangan rumput di belakang rumah/kastil yang luas. Di sanalah dimainkan olahraga polo, kriket sampai sepakbola [lih. Buku Soccer in South Asia: Empire, Nation, Diaspora; 2001, hal 58].

Yang membedakan dengan Hindia Belanda adalah di India sepakbola disebarkan oleh orang-orang Inggris, khususnya oleh tentara, terutama untuk melatih disiplin dan solidaritas ketentaraan, esprit de corps. Dalam sebuah turnamen sepakbola yang digelar pada Oktober 1892, salah satu pejabat Inggris di India, Lord Roberts, mengartikulasikan hal itu dengan jelas. “Kualitas, disiplin dan kombinasi keduanya,” ujar Lord Roberts, “sama-sama dibutuhkan bagi seorang pemain bola yang bagus dan tentara yang baik.”

Sepakbola modern memang “dilahirkan” di Inggris dan Inggris pula yang bertanggungjawab menyebarluaskan permainan ini. Seperti yang sudah disinggung di bagian pertama tulisan ini, Inggris dengan mudah menyebarkan permainan ini, termasuk ke dunia ketiga, karena status mereka sebagai negara kolonial terbesar di dunia.

Football Association (FA), federasi sepakbola Inggris yang didirikan pada 1863, tidak selalu bertanggung jawab atas penyebaran itu. Kebanyakan penyebaran sepakbola ke luar benua Eropa dilakukan orang-orang Inggris atas inisiatif sendiri. Kebanyakan dari mereka adalah pegawai administrasi pemerintah Inggris di negeri jajahan, beberapa di antaranya tentara, para pedagang dan tidak jarang bahkan para pelaut Inggris.

Itu sebabnya nama-nama berbau Inggris sampai sekarang masih menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia sepakbola di banyak negara yang tidak memakai bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari sekalipun, tidak terkecuali di negara-negara yang bukan jajahan Inggris. Tak mengherankan jika di Belanda ada klub bernama Go Ahead atau di Argentina [yang dijajah Spanyol] ada klub bernama Boca Juniors dan River Plate.

Dalam studi kasus Indonesia, hal itu juga terjadi. Salah satu klub sepakbola yang masih bertahan hingga sekarang, UMS, juga mencerminkan dengan kuat watak “Inggris” dalam sepakbola Hindia Belanda saat itu. UMS adalah singkatan dari Union Makes Strength — sebuah parafrase yang sangat terkenal, banyak digunakan sebagai motto organisasi di berbagai negara, negara Haiti bahkan menjadikan parafrase itu sebagai semboyan nasional. Klub sepakbola Tionghoa di Bandung juga menggunakan bahasa Inggris sebagai namanya yaitu YMC [Young Men’s Combination].

Meletakkan sejarah sepakbola ke dalam konteks politik kolonial memang tak terhindarkan. Sekarang, dengan jargon kick politics out of football, sepakbola dan FIFA memang mencoba mensterilisasi watak politik dalam sepakbola. Tapi sejarah FIFA, terutama sebelum Perang Dunia, memang lekat dengan upaya untuk mempertahankan tatanan dunia lama yang dikendalikan oleh negara-negara kolonial. Hengkangnya Inggris dari keanggotaan FIFA pada 1920, juga tak lepas dari upaya mereka yang terus mencoba mengendalikan FIFA.

Kondisi itu diungkapkan dengan bernas oleh John Sugden dan Alan Tomlinson dalam sebuah kalimat lugas: “Britain invented the game and gave it to the world, and we’re going to damn well control it!” [lihat buku Sport and Poscolonialsm Global Sport Culture, 2003, hal. 180].

Belanda menyadari benar bahayanya membiarkan sepakbola dimainkan secara bebas oleh rakyat jajahannya. Sejarah PSSI di masa penjajahan punya banyak cerita bagaimana sepakbola dimainkan oleh kaum bumiputera dalam konteks politik kolonial ini [seperti yang akan tersaji dalam serial artikel selanjutnya]. Tapi dalam hal PSSI, konteksnya bukan untuk meneguhkan sistem politik kolonial itu, tapi justru untuk menumbangkannya.

Demikian sejarah sepak bola Indonesia, untuk artikel lengkapnya sahabat Soccer History dapat membacanya di goljebret.com


Sumber: 
 
Copyright © 2014 Soccer History.